Mengapa Umur Kita Tidak Mencapai 110 Tahun ???

September 3, 2008 at 10:38 am (Uncategorized)

Jakarta, Selasa 18 January 2005 (Kompas)

Oleh Dr. Handrawan Nadesul, dokter umum


Sudah lama orang mencari tahu bagaimana bisa menikmati hidup di dunia lebih panjang?

Sebuah riset mengatakan, umur manusia bisa mencapai satu juta jam atau 120 tahun (biogenetic maximum life span, Dr.Robert Butler).
Namun, bila sekarang umur harapan hidup manusia (life expectancy at birth) di negara maju seperti Amerika Serikat pun belum sampai 120 tahun, tentu ada yang keliru dalam kita menyikapi hidup kedagingan kita.

Ada yang perlu dicermati dalam kita menjalani kehidupan yang belum tentu seluruhnya tepat dan benar.

Lalu, kepada siapakah arifnya kita harus belajar?
Riset mutakhir Dr. Richard Cutler menyingkapkan bahwa lamanya kemampuan setiap spesies untuk hidup (MLP, mean lifetime potential) ditentukan oleh laju pertumbuhan fisik, panjangnya masa reproduksi, ukuran otak, dan konsumsi kalori maksimum. Itu sebab setiap spesies berbeda-beda MLP-nya. Umur 110 tahun untuk manusia.
Kalau rata-rata umur harapan hidup manusia sekarang ini
paling banter 80 tahun, berarti masih mungkin mengejar kekurangan sekitar 30 tahun bila benar kemampuan tubuh manusia bertahan hidup sebetulnya bisa sampai 110 tahun.

Lalu, mengapa rata-rata gelas umur kita tidak mengisi penuh gelas umur yang tersedia?
Banyak faktor perongrong dalam cara kita menempuh dan menetapkan pilihan hidup.
Dari empat faktor penentu MLP spesies manusia versi Dr. Richard Cutler di atas, faktor konsumsi kalori maksimum saja yang masih mungkin bisa kita manipulasi. Faktor-faktor lainnya tidak sederhana untuk kita manipulasi.
Bila mengamati rata-rata asupan kalori harian, kita menemukan benang merah setelah pada riset yang lain ditemukan korelasi antara
makan berlebihan dengan dikortingnya umur kita. Konsep makan secukupnya dianggap pilihan arif kalau ingin merentang umur sepanjang yang sebetulnya mungkin kita raih, baik itu merujuk pada maximum life span, maupun seturut MLP.

Seberapakah Cukup?

  •  
    • Ilmu gizi sudah mengukur berapa kalori dibutuhkan tubuh setiap  hari, tetapi lidah dan perut kita terbiasa mengkhianati kodrat selera dan dorongan makannya sendiri.

Sinyal dari otak kita sebagai pusat kendali kapan saatnya tubuh perlu dipasok makanan dan minuman, dan kapan saatnya pasokan itu harus dihentikan, terbiasa dilanggar oleh rasa hedonistik kita terhadap makanan. Rata-rata orang cenderung makan juga kendati sedang tidak lapar. Sinyal lapar dan kenyang bukan lagi ditentukan oleh otak, melainkan oleh derasnya emosi.

Rata-rata orang modern yang lebih banyak bekerja otak ketimbang fisiknya cuma butuh sekitar 2.000 kalori saja setiap hari. Namun, jumlah kebutuhan itu hampir senantiasa terlampaui saking semakin lebarnya diversivikasi makanan orang modern yang jauh lebih lezat dibanding makanan purba. Cenderung selalu mengabulkan kenikmatan sepanjang ukuran lidah itulah yang bikin manusia modern rata-rata semakin bertabiat rakus, menentukan makan bukan hanya kalau merasa lapar seperti kata kodrat di otaknya.

Sekarang di Barat muncul konsep “makan dengan otak” melihat kecenderungan orang modern yang hampir selalu makan dengan emosi. Konsep “makan dengan otak terkandung maksud bukan saja dalam hal  porsi, melainkan juga dalam pilihan jenis menu dan sumber bahan makanan bukan yang merusak badan.

Celakanya, rata-rata makanan yang lezat dan echo yang bikin perut kita kasmaran itu yang justru bertindak sebagai “racun” buat dapur mesin tubuh kita. Di sana ada radikal bebas, ada logam berat, ada ampas tak berguna, ada lemak merusak, selain semakin miskin vitamin dan mineral. Padahal, nutrisi vital ini yang tidak bisa tidak harus tubuh terima setiap hari.

Jadi, arifnya kita menyikapi makanan lebih dari sekadar memahami arti gizi, terlebih bagaimana mengekang emosi setiap kali aroma dan penampakan sebuah menu langsung membetot dorongan makan kita, lalu mengkhianati janji pribadi: hanya makan kalau lapar saja.

Kecenderungan itu pula yang sampai sekarang terus melahirkan budaya “dagu berlipat”, orang mapan dengan ukuran pinggang di atas 40, padahal sadar kalau besarnya ukuran tali pinggang berbanding terbalik dengan umur harapan hidup.
 
Mengetahui gemuk sumber penyakit saja ternyata tidak cukup. Terapi perilaku kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dan upaya mengempiskan ukuran perut. Sepatutnya kita arif memperlakukan tubuh, termasuk dalam menyediakan makanan agar mesin tubuh tidak lekas macet dan masih tetap lancar sampai di ujung hidup.
 
Saatnya disadari bahwa
makanan berlebihan itu “racun”. Belum lagi kesalahan kita dalam menggandrungi jenis-jenis makanan yang sebetulnya bukan kodratnya untuk dikonsumsi. Kita sudah begitu jauh memanipulasi sumber bahan makanan alami kita sendiri, mulai kegampangan kita memilih ayam dan telur ayam ras serta rekayasa genetik pada sayur dan buah. Ke depan kita pun diperkirakan kita sudah harus siap menerima peternakan hasil kloning.

Tentu ada yang tak lengkap dalam setiap produk hasil rekayasa ilmu pengetahuan, secanggih apa pun. Produk rekayasa ternyata tidak sesempurna produk yang lahir dan rahim bumi. Harus diakui kalau telur ayam ras misalnya, tidak lebih sempurna kandungan gizinya dibanding telur ayam kampung. Tak ubahnya air susu ibu tak terkalahkan dibanding susu formula paling lengkap sekalipun.

Kalau Lapar Saja

  •  
    • Agaknya kita perlu belajar kembali bagaimana menyimak rasa lapar kita yang selama ini mungkin sudah semakin tidak peka lagi.

Boleh jadi kita sudah tidak pernah mengalami rasa lapar itu hadir saking tidak kunjung berhentinya kita melahap apa saja. Biarkan saatnya sekarang kita lebih arif untuk makan pada jadwal alami, saat lambung kosong dan gula dalam darah paling rendahlah yang mengirimkan pesan kepada otak untuk menyalakan rasa lapar alami kita. Sebab, hanya pada saat itulah tubuh sebetulnya sedang butuh pasokan kalori.
 
Dan belajar menjadi peka pula untuk
taat pada alarm rasa kenyang yang dikirimkan otak saat pasokan kalori tubuh sudah pada taraf mencukupi, dan jangan pernah melanggarnya lagi. Sinyal-sinyal ini akan menyala, sesuai dengan kodrat lambung kosong, bahwa kita cuma perlu makan tiga kali, dalam porsi sampai sebelum kita merasa kenyang, dan tahu diri pula memilih menu yang lebih bersahabat dengan mesin tubuh kita.

Tulis sebuah Komentar